Evan Dimas Pernah Hampir Berhenti dari Dunia Sepak Bola

Seorang pemain sepak bola andal yang lahir di Surabaya, ialah Evan Dimas. Dengan keahliannya dalam permainan sepak bola yang sudah tidak diragukan lagi, ternyata dia pernah mengalami masa sulit di waktu kecilnya.

Melansir dari situs Bola.com, orang tua Evan pernah memintanya untuk berhenti dari Sekolah Sepak Bola (SSB) yang diikutinya saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Alasannya karena faktor ekonomi yang sedang membelit keluarganya kala itu.

Ketika ia masih kecil, tepatnya saat Evan masih kelas 4 SD, itulah saat pertama kalinya dia memutuskan untuk ikut SSB. Sasana Bakti adalah SSB pertama yang diikutinya. Pamannyalah yang mengajaknya untuk ikut SSB di Surabaya.

Sama seperti anak-anak pada umumnya, Evan bermain sepak bola seperti biasa. Bahkan tanpa mengenakan alas kaki seperti teman-temannya di kampungnya. Evan mengaku bermain sepak bola hanya menjadi kegemarannya saja.

Hingga dia ikut SSB Sasana Bakti. Di situlah dia mulai menikmati permainan sepak bola yang akan mengubah hidupnya. Sepak bola yang awalnya hanya untuk bermain-main saja, kini telah menjadi bagian dari cita-citanya.

Hanya sampai SMP kelas 1 Evan bersama SSB Sasana Bakti. Setelah itu dia memutuskan untuk pindah ke SSB Mitra Surabaya. Hal itu karena SSB Mitra Surabaya lebih dekat dengan tempat tinggalnya sehingga mudah untuk dijangkau.

Setelah pindah ke SSB yang baru, Evan kembali menemui ujian. Orang tuanya kembali melarangnya untuk melanjutkan kegiatan di SSB. Alasannya karena kondisi perekonomian keluarga sedang pas-pasan dan tidak cukup untuk membiayai aktivitasnya di SSB.

Evan menuturkan bahwa orang tuanya selalu mendukung kegiatan dan hobinya. Namun kala itu kondisi perekonomian keluarganya memang sedang tidak stabil sehingga orang tua memintanya untuk berhenti dari SSB. Orang tuanya tidak sanggup untuk membelikan sepatu dan perlengkapan lain untuk bermain bola.

Evan tetap kukuh dengan pendiriannya. Dia ingin tetap belajar menjadi pemain sepak bola profesional. Motivasinya datang dari beberapa pemain sepak bola di kampungnya yang berhasil mengharumkan nama kampungnya. Evan ingin derajat keluarganya terangkat karena prestasinya dalam bermain sepak bola.

Berbekal motivasi dan tekad yang kuat, Evan tetap melanjutkan untuk belajar sepak bola di SSB. Cara menyiasati beberapa hal yang terhambat karena faktor ekonomi adalah dengan memakai sepatu bola yang murah. Dia pernah memakai sepatu bola dengan harga Rp 20.000,00. Itu pun terlalu besar untuk ukuran kakinya sehingga dia harus menyelipkan kain di bagian depan sepatu agar pas ketika dipakai.

Menjadi pemain kebanggaan Persija Jakarta, Evan mengaku bahwa dia mengidolakan Ahmad Bustomi. Evan menjadikannya sebagai role model dalam bermain sepak bola. Evan mengatakan bahwa Ahamad Bustomi memiliki posisi yang sama dengannya dan memiliki tindak tanduk yang baik. Itulah alasan Evan menjadikan Ahamad Bustomi sebagai panutan.

You may also like